CINTA SEJATI…

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim …Namun Rasulullah mengingkarinya dan menegaskan
bahwa “cinta sejati” takkan terwujud hingga Umar meletakkan Rasulullah sebagai orang nomor satu yang harus ia cintai melebihi cintanya kepada

diri sendiri, persis sebagaimana yang ditegaskan dalam surat al-Ahzab ayat-6 bahwa “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.”[QS. 33] Al- Ahzab – Surah GOLONGAN YANG BERSEKUTU
Nabi itu [hendaknya] lebih utama bagi orang-orang mu’min dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak [waris mewarisi] di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mu’min dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu [seagama]. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab [Allah]. (6)

Al-Khatthabi menegaskan bahwa cinta terhadap diri sendiri merupakan fitrah setiap manusia, namun mencintai orang lain adalah sebuah pilihan yang membutuhkan sebab dan proses.

Sedangkan Ibnu Hajar Al-Asqalany menerangkan bahwa pengingkaran Rasulullah terhadap Umar yang menomor-duakan cintanya kepada Rasulullah tidaklah cukup untuk menempatkan dirinya dalam derajat yang tinggi. Artinya, mencintai Rasulullah adalah bagian inti dari agama suci ini.

Cinta adalah perasaan istimewa yang merupakan fitrah semua manusia. Cinta mungkin lebih tepat jika dirasakan dengan intuisi jiwa ketimbang didefinisikan dengan ukiran kata yang dapat mereduksi makna aslinya.

Sedari dulu para penyair, penulis, pemusik, sastrawan dan seluruh aktivis seni cukup disibukkan dalam mendefinisikan kata yang terangkai dari lima huruf ini, “c-i-n-t-a”. Tapi bagi umat Islam, dalam memaknai “cinta sejati” cukup dengan merujuk kepada kitab utama pedoman umat; yaitu Al-Qur’an.

Ibnu Abbas bahkan pernah mengatakan, “Jika aku kehilangan kekangan onta, maka aku akan mendapatkannya di dalam Al-Qur’an.” Maksudnya, bahwa kandungan ilmu dalam Al-Qur’an sangatlah luas, seluruh aspek kehidupan dapat ditemukan dalam Al-Qur’an.

Baik dari yang sekecil semut (an-Naml) hingga yang sebesar gajah (al-Fiil). Baik itu terkandung secara eksplisit maupun implisit. Demikian halnya masalah cinta yang pada tahap tertentu dapat menjadi pondasi iman paling utama.

Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah,

[QS. 24] At-Tawba – Surah PENGAMPUNAN
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan [dari] berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (24)

Dengan mencintai utusan Allah, berarti seorang mukmin telah mencintai Sang Pengutus itu sendiri. dan itulah tafsiran dari syahadatain yang merupakan konsep fundamental dalam Islam; yaitu berikrar dengan lisan bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, lalu meyakininya dengan sepenuh hati hingga akhirnya dengan seluruh kemampuan fisik memenuhi segala perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Itulah mengapa seorang pecinta sejati memiliki gejolak jiwa yang sangat besar dan bahkan bersedia mengorbankan segalanya demi sesuatu yang ia cintai.

Maka tak ayal jika Romeo memilih mati bersama Juliet, tak heran jika Qais menjadi majnun (gila) karena Laila, tak aneh jika Stevan merasa hancur tatkala Magdalena menghianati cintanya, dan tak mustahil jika Noura tega memfitnah Fahri demi mendapatkan cintanya.

Tapi singkirkan dulu novel-novel fiktif di atas, lalu saksikan bagaimana “cinta sejati” pernah terjadi dalam sebuah kisah nyata; Lihat bagaimana Abu Bakar lebih mencemaskan keselamatan Rasulullah daripada dirinya sendiri tatkala mereka dikejar kaum kafir hingga harus bersembunyi di gua Tsur.

Perhatikan bagaimana Bilal bin Rabbah lebih memilih dadanya ditindih oleh batu besar yang diletakkan Ummayah bin Khalaf di bawah sengatan terik mentari dari pada meninggalkan ajaran Rasulullah.

Lalu saksikan bagaimana Abdullah bin Mughaffal bercucuran air mata saat Rasulullah tidak mengikut-sertakan dirinya dalam medan jihad lantaran tiada kendaraan perang yang tersisa untuknya.

Serta cermati bagaimana Utsman bin Affan memenuhi panggilan Rasulullah dengan mendermakan hartanya sebanyak 900 onta dan 100 kuda (belum termasuk uang) untuk jihad fisabilillah.

Mereka bukanlah para pecinta buta yang mengobral cintanya untuk perkara duniawi. Mereka juga bukan tokoh fiktif yang hanya ditemukan dalam novel-novel belaka. Namun mereka adalah manusia mulia dengan peran nyata yang pernah hadir dalam sejarah dunia.

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Categories
Bookmarks